Snack's 1967
2026-01-08 22:42

Riwayat Singkat Kehidupan Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam

Mukadimah Penulis

Alhamdulillah, segala puja dan puji hanya bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi beserta semua mahluk dan seluruh isinya. Sholawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Baginda Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam sampai pada akhir kehidupan nanti yaitu hari Kiamat yang saatnya telah ditentukan Allah Subhanahu Wa Ta‘ala.
Riwayat tentang kehidupan Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam ini saya tulis ulang dari sumber (sumber aktif dibawah artikel ini), yang InsyaAllah bermanfa’at untuk menambah ilmu, pengetahuan dan kecintaan kita yang tulus kepada Baginda Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam khususnya untuk para penulis artikel islami dan umumnya untuk kita semua.
Terima kasih untuk sahabat yang sudah mengunjungi wapsite yang sederhana ini dan mohon maaf apabila ada kata, kalimat atau tulisan serta huruf yang salah dalam penulisan ulang artikel ini. Selamat membaca untuk semua sahabat yang saya banggakan, tetap dan terus menambah ’ibadah kita kepada Allah Subhanahu Wata‘ala...

Ciri Fisik Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam

Ali bin Abi Thalib r.a. memperinci ciri fisik Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam,
“Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wasallam tidak terlalu tinggi dan tidakpula terlalu pendek. Berpostur indah dikalangan kaumnya, tidak terlalu gemuk dan tidakpula terlalu kurus. Perawakannnya bagus sebagai pria yang tampan. Badannya tidak tambun, wajah tidak bulat kecil, warna kulitnya putih kemerah-merahan, sepasang matanya hitam, bulu matanya panjang. Tulang kepalanya dan tulang antara kedua pundaknya besar, bulu badannya halus memanjang dari pusar sampai dada. Rambutnya sedikit, kedua telapak tangan dan telapak kakinya tebal.
Apabila berjalan tidak pernah menancapkan kedua telapak kakinya, beliau melangkah dengan cepat dan pasti. Apabila menoleh, beliau menolehkan wajah dan badannya secara bersamaan. Diantara kedua bahunya terdapat tanda kenabian dan memang beliau adalah penutup para Nabi. Beliau adalah orang yang sangat dermawan, sangat berlapang dada, sangat jujur ucapannya, sangat bertanggung jawab dan sangat baik pergaulannya. Siapa saja yang bergaul dengannya pasti akan menyukainya”.

Setiap orang yang bertemu Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam pasti akan berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang sepertinya, baik sebelum maupun sesudahnya”. Begitulah Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam di mata khalayak, sebab beliau berakhlaq sangat mulia seperti yang digambarkan Al-Qur’an,
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qolam: 4)

Nasab Rosulullah ‘Alaihi Wasallam

Nasabnya adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Quraisy bin Kilab.
Rosulullah memiliki silsilah yang berujung pada Adnan anak keturunan Nabi Ismail a.s. Semuanya dikenal sebagai orang-orang yang mulia dan sholih. Tak heran jika Rosulullah adalah anak Adam yang paling mulia kehormatan dan paling utama nasabnya. “Aku adalah manusia pilihan dari diantara manusia pilihan dari diantara manusia pilihan”.

Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam adalah putra semata wayang Abdullah, anak terakhir Abdul Muthallib. Abdul Muthallib pernah bernazar, jika dikaruniai 10 anak lelaki, ia akan menyembelih satu orang diantaranya untuk Allah. Ketika diundi, keluarlah nama Abdullah. Ketika Abdul Muthallib akan memenuhi nazarnya, kaumnya bermusyawarah dan menawarkan kepadanya agar menebus putra bungsunya itu dengan 100 ekor unta atau serata dengan di’at 10 orang budak.

Abdullah wafat saat Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam masih dalam kandungan Aminah, ibunya. Aminah adalah anak Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam lahir di hari Senin, 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah. Aminah mengirimkan bayinya ke Abdul Muthallib. Lantas Abdul Muthallib membawa bayi yang dinamainya Muhammad itu berthawaf mengelilingi Ka’bah.

Tahun Gajah

Tahun Gajah, apa maksudnya? Di tahun kelahiran Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam ada peristiwa besar di Mekah. Abrahah Al-Habsyi seorang panglima perang kebangsaan Habasyah (Ethiopia) berkuasa dan dia sebagai Gubernur Yaman dibawah pemerintahan Raja Najasyi, Raja Habasyah. Ia membangun sebuah gereja besar yang diberi nama Al-Qallais. Abrahah ingin gerejanya itu menjadi kiblat seluruh bangsa Arab. Seorang pria dari Bani Kinanah mendengar obsesi Abrahah itu. Ia pergi ke Yaman dan menyelinap kedalam gereja itu dimalam hari. Lalu ia buang air besar dan kemudian membuang kotorannya di kiblat gereja itu.

Mengetahui itu, Abrahah marah. Ia bersumpah akan pergi ke Mekah dan menghancurkan Ka’bah. Abrahah mengerahkan tentara dan pasukan gajahnya. Namun, perjalanan pasukan gajah ini terhenti di Mina. Allah Subhanahu Wa Ta‘ala membinasakan pasukan itu dengan mengirimkan serombongan Burung Ababil yang melemparkan kerikil mematikan. Tahun terjadinya peristiwa itu dinamakanlah Tahun Gajah.

Ibu Susu Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam

Sudah menjadi tradisi kalangan terpandang Arab, bayi-bayi mereka disusui oleh murdi’at (para wanita yang menyusui bayi). Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam ditawarkan kepada murdi’at dari Bani Sa’ad yang sengaja datang ke Mekah mencari bayi-bayi yang masih menyusu dengan harapan mendapat bayaran dan hadiah. Tapi mereka menolak karena Rosulullah anak yatim. Namun Halimah Sa’diyah tidak mendapatkan seroang bayi pun yang akan disusui. Karena itu, agar pulang tanpa tangan hampa, ia mengambil Rosulullah yang yatim itu sebagai anak susuannya.

Keberadaan Muhammad mungil memberi berkah kepada keluarga Halimah, bahkan bagi kabilahnya. Setelah dua tahun, Halimah membawa Muhammad kecil mengunjungi ibunya. Karena sadar bahwa keberadaan Muhammad kecil memberi berkah kepada kampungnya, Halimah memohon Aminah agar Muhammad kecil diizinkan tinggal kembali bersama Bani Sa’ad dan Aminah pun setuju.

Muhammad cilik dikembalikan ke Mekah setelah terjadi peristiwa pembelahan dada. Dua Malaikat datang menghampiri Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dengan membawa bejana dari emas berisi es. Mereka membelah dada Rosulullah dan mengeluarkan hatinya. Hati itu dibedah dan dikeluarkan gumpalan darah yang berwarna hitam, kemudian dicuci dengan es, setelah itu dikembalikan seperti semula. Halimah khawatir dengan keselamatan Muhammad cilik. Ia dan suaminya sepakat mengembalikan Muhammad kecil kepada ibunya.

Ibunda Rosulullah (Aminah) dan Kakek Rosulullah (Abdul Muthallib) Wafat

Muhammad kecil pun tinggallah bersama ibunya. Ketika berusia 6 tahun, Muhammad cilik dibawa ibunya mengunjungi paman-pamannya dari Bani Adi bin Najjar di Yatsrib (yang kemudian hari berubah nama menjadi Madinah). Dalam perjalanan ini Aminah wafat di Abwa dan dikuburkan disana. Kemudian Muhammad cilik diasuh kakeknya, Abdul Muthallib. Namun tak berlangsung lama, hanya 2 tahun. Abdul Muthallib wafat ketika Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam berusia 8 tahun. Rosulullah kemudian diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.

Perjalanan ke Syam

Abu Thalib pergi berdagang ke Syam dan keponakannya Muhammad ikut serta. Kafilah dagang ini tiba di Kampung Busra. Mereka bertemu dengan seorang pendeta bernama Bahira. Bahira tahu tentang ajaran Nasrani dan ia faham betul tentang ciri dan sifat Rosul terakhir yang diberitakan oleh Nabi ‘Isa a.s. Bahira melihat ada tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad, keponakan Abu Thalib. Ia menasihati Abu Thalib agar segera membawa pulang keponakannya dan waspada dengan orang-orang Yahudi.

Rosulullah Menikah Dengan Siti Khadijah

Ketika berusia 25 tahun, Rosulullah pergi ke Syam membawa barang dagangan milik Siti Khadijah. Rosulullah ditemani pembantu kepercayaan Siti Khadijah bernama Maisaroh. Maisaroh memberi informasi kepada Siti Khadijah tentang sifat-sifat yang sangat mulia Rosulullah. Kemudian setelah kembali ke Mekah, Muhammad muda menikah dengan Siti Khadijah. Saat dinikahi Muhammad muda, Siti Khadijah bersatus janda. Dari pernikahan ini Muhammad dan Siti Khadijah mendapatkan beberapa orang anak. Ada riwayat yang mengabarkan Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dikaruniai 2 orang anak lelaki dari Siti Khadijah, yaitu Qasim dan Abdullah. Namun keduanya meninggal sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan Rosul. Rosulullah juga mendapat anak-anak perempuan dari Siti Khadijah, yaitu Zainab, Ruqayyah, dan Ummi Kulsum. Mereka mengamalkan Islam dan meninggal sebelum Rosulullah wafat. Sedangkan putri bungsu Rasulullah dari Siti Khadijah adalah Fathimah. Fathimah meninggal 6 bulan setelah Rosulullah wafat.

Berkhalwat di Gua Hira

Sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rosul, Muhammad suka menyendiri di Gua Hira. Ini dikarenakan ia begitu membenci paganisme agama kaum waktu itu, dan setiap perbuatan keji yang dilakukan kaumnya. Di Gua Hira Muhammad beribadah kepada Robbnya.

Membangun Ka’bah

Ketika Muhammad menginjak usia 35 tahun, orang-orang Quraisy berkumpul untuk membangun kembali Ka’bah yang rusak. Saat proses peletakan kembali Hajar Aswad, para kabilah Quraisy bersengketa. Mereka masing-masing merasa paling berhak melakukannya. Selisih pendapat ini sampai pada puncaknya dan mereka siap saling berperang.

Tapi, akhirnya mereka sepakat untuk menjadikan orang yang pertama kali masuk dari pintu masjid sebagai hakim yang memutuskan perkara mereka. Dan orang yang muncul pertama kali dari masjid adalah Muhammad Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam. Mereka serempak mengatakan, “Ini dia Al-Amin, Kami ridho dengannya!!!”

Kemudian Muhammad meminta sehelai selendang, lalu ia ambil Hajar Aswad dan meletakkannya dengan tangannya sendiri. “Setiap kabilah hendaknya mengambil sisi-sisi selendang ini lalu angkatlah bersama-sama”, begitu ucapnya. Kemudian setelah diangkat hingga dekat dengan tempatnya, Muhammad mengangkat dan meletakkan dengan tangannya sendiri Hajar Aswad ditempat yang seharusnya. Dan pembangunan itupun selesai dengan semua kabilah dan mereka semua merasa senang.
(Mochamad Bugi)
dakwatuna.com

Sumber :
www.generasimuslim.com/sirah-nabawiyah/70-riwayat-hidup-muhammad-sebelum-dibangkitkan-menjadi-nabi-dan-rasul

OnlineUsers
526
Home