Lamborghini Huracán LP 610-4 t
2026-01-08 22:48

Ciri-ciri Penduduk Surga

Ciri-Ciri Penduduk Surga

Segala puji hanya bagi Allah yang telah menciptakan surga bagi hamba-hamba yang beriman dan menciptakan neraka bagi orang-orang kafir. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi dan Rosul akhir zaman, para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka. Amma ba’du.

Berikut ini adalah sebagian ciri-ciri dan karakter orang-orang yang dijanjikan oleh Allah mendapatkan surga beserta segala kenikmatan yang ada didalamnya, yang sama sekali belum pernah terlihat oleh mata, belum terdengar oleh telinga, dan belum terlintas dalam benak manusia. Semoga Allah menjadikan kita termasuk diantara penduduk surga-Nya.

1. Beriman Dan Beramal sholih

Allah ta’ala berfirman,

“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholih bahwasanya mereka akan mendapatkan balasan berupa surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai…” (Qs. Al-Baqoroh: 25)

Ibnu Abi Zaid Al-Qairawani rahimahullah mengatakan,

“Iman adalah ucapan dengan lisan, keikhlasan dengan hati, dan amal dengan anggota badan. Ia bertambah dengan bertambahnya amalan dan berkurang dengan berkurangnya amalan. Sehingga amal-amal bisa mengalami pengurangan dan ia juga merupakan penyebab pertambahan -iman-. Tidak sempurna ucapan iman apabila tidak disertai dengan amal. Ucapan dan amal juga tidak sempurna apabila tidak dilandasi oleh niat -yang benar-. Sementara ucapan, amal, dan niatpun tidak sempurna kecuali apabila sesuai dengan As-Sunnah/tuntunan”. (Qathfu Al-Jani Ad-Dani karya Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, hal. 47)

Al-Baghawi rahimahullah menyebutkan riwayat dari Utsman bin Affan Rodhiyallahu ’Anhu bahwa yang dimaksud amal sholih adalah mengikhlaskan amal. Maksudnya adalah bersih dari riya’. Mu’adz bin Jabal Rodhiyallahu ’Anhu mengatakan, “Amal sholih adalah yang didalamnya terdapat empat unsur : ilmu, niat yang benar, sabar, dan ikhlas”. (Ma’alim At-Tanzil [1/73] As-Syamilah).

2. Bertaqwa

Allah ta’ala berfirman,

“Bagi orang-orang yang bertaqwa terdapat balasan disisi Robb mereka berupa surga-surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal didalamnya, begitu pula mereka akan mendapatkan istri-istri yang suci serta keridhoan dari Allah. Allah Maha melihat hamba-hamba-Nya”. (Qs. Ali Imron: 15)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menguraikan jati diri orang bertaqwa. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaqwa kepada Robb mereka. Mereka menjaga diri dari siksa-Nya dengan cara melakukan apa saja yang diperintahkan Allah kepada mereka dalam rangka menta’ati-Nya dan karena mengharapkan balasan/pahala dari-Nya. Selain itu, mereka meninggalkan apa saja yang dilarang oleh-Nya juga demi menta’ati-Nya serta karena khawatir akan tertimpa hukuman-Nya (Majalis Syahri Ramadhan, hal. 119 cet Dar Al-’Aqidah 1423 H).

Termasuk dalam cakupan taqwa, yaitu dengan membenarkan berbagai berita yang datang dari Allah dan beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan syari’at, bukan dengan tata cara yang diada-adakan (baca:bid’ah). Ketaqwaan kepada Allah itu dituntut disetiap kondisi, dimana saja dan kapan saja. Maka hendaknya seorang insan selalu bertaqwa kepada Allah, baik ketika dalam keadaan tersembunyi/sendirian atau ketika berada ditengah keramaian/dihadapan orang (lihat Fath Al-Qawiy Al-Matin karya Syaikh Abdul Muhsin Al-’Abbad hafizhahullah, hal. 68 cet. Dar Ibnu ‘Affan 1424 H).

An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, salah satu faktor pendorong untuk bisa menumbuhkan ketaqwaan kepada Allah adalah dengan senantiasa menghadirkan keyakinan bahwasanya Allah selalu mengawasi gerak-gerik hamba dalam segala keadaannya (Syarh Al-Arba’in, yang dicetak dalam Ad-Durrah As-Salafiyah, hal. 142 cet Markaz Fajr dan Ulin Nuha lil Intaj Al-I’lami).

Syaikh As-Sa’di rahimahullah memaparkan bahwa keberuntungan manusia itu sangat bergantung pada ketaqwaannya. Oleh sebab itu Allah memerintahkan (yang artinya), “Bertaqwalah kepada Allah, mudah-mudahan kamu beruntung. Dan jagalah dirimu dari api neraka yang disediakan bagi orang-orang kafir”. (Qs. Ali Imron : 130-131). Cara menjaga diri dari api neraka adalah dengan meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkan terjerumus kedalamnya, baik yang berupa kekafiran maupun kemaksiatan dengan berbagai macam tingkatannya. Karena sesungguhnya segala bentuk kemaksiatan -terutama yang tergolong dosa besar- akan menyeret kepada kekafiran, bahkan ia termasuk sifat-sifat kekafiran yang Allah telah menjanjikan akan menempatkan pelakunya didalam neraka. Oleh sebab itu, meninggalkan kemaksiatan akan dapat menyelamatkan dari neraka dan melindunginya dari kemurkaan Allah al-Jabbar. Sebaliknya, berbagai perbuatan baik dan ketaatan akan menimbulkan keridhoan Ar-Rohman, memasukkan kedalam surga dan tercurahnya rahmat bagi mereka (Taisir Al-Karim Ar-Rohman [1/164] cet Jum’iyah Ihya’ At-Turots Al-Islami).

Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah mengimbuhkan, bahwa tercakup dalam ketaqwaan -bahkan merupakan derajat ketaqwaan yang tertinggi- adalah dengan melakukan berbagai perkara yang disunnahkan (mustahab) dan meninggalkan berbagai perkara yang makruh, tentu saja apabila yang wajib telah ditunaikan dan haram ditinggalkan (Jami’ Al-’Ulum wa Al-Hikam, hal. 211 cet Dar Al-Hadits 1418 H).

Ibnu Rajab rahimahullah menyebutkan riwayat dari Mu’adz bin Jabal Rodhiyallahu ’Anhu, Mu’adz ditanya tentang orang-orang yang bertaqwa. Maka beliau menjawab, “Mereka adalah suatu kaum yang menjaga diri dari kemusyrikan, peribadahan kepada berhala, dan mengikhlaskan ibadah mereka hanya untuk Allah”. Al-Hasan mengatakan, “Orang-orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang menjauhi perkara-perkara yang diharamkan Allah kepada mereka dan menunaikan kewajiban yang diperintahkan kepada mereka”. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah juga menegaskan bahwa ketaqwaan bukanlah menyibukkan diri dengan perkara yang sunnah namun melalaikan yang wajib. Beliau rahimahullah berkata, “Ketaqwaan kepada Allah bukan sekedar dengan berpuasa disiang hari, sholat malam, dan menggabungkan antara keduanya. Akan tetapi hakikat ketaqwaan kepada Allah adalah meninggalkan segala yang diharamkan Allah dan melaksanakan segala yang diwajibkan Allah. Barang siapa yang setelah menunaikan hal itu dikaruni amal kebaikan maka itu adalah kebaikan diatas kebaikan”. Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Taqwa adalah kamu melakukan keta’atan kepada Allah diatas cahaya dari Allah karena mengharapkan pahala dari Allah, serta kamu meninggalkan kemaksiatan kepada Allah diatas cahaya dari Allah karena takut hukuman Allah”. (dinukil dari Jami’ Al-’Ulum wa Al-Hikam, hal. 211 cet Dar Al-Hadits 1418 H)

Pokok dan akar ketaqwaan itu tertancap didalam hati. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Pada hakikatnya ketaqwaan yang sebenarnya itu adalah ketaqwaan dari dalam hati, bukan semata-mata ketaqwaan anggota tubuh. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Yang demikian itu dikarenakan barang siapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu semua muncul dari ketaqwaan yang ada didalam hati”. (QS. Al-Hajj: 32). Allah juga berfirman (yang artinya), “Tidak akan sampai kepada Allah daging-daging dan darah-darah -hewan kurban itu-, akan tetapi yang akan sampai kepada Allah adalah ketaqwaan dari kalian”. (QS. Al-Hajj: 37). Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Ketaqwaan itu sumbernya disini”. Seraya beliau mengisyaratkan kepada dadanya (HR. Muslim dari Abu Hurairah Rodhiyallahu ’Anhu)”. (Al-Fawa’id, hal. 136 cet. Dar Al-’Aqidah 1425 H).

Namun, perlu diingat bahwa hal itu bukan berarti kita boleh meremehkan amal-amal lahir, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Petunjuk yang paling sempurna adalah petunjuk Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam. Sementara itu, beliau adalah orang yang telah menunaikan kedua kewajiban itu -lahir maupun batin- dengan sebaik-baiknya. Meskipun beliau adalah orang yang memiliki kesempurnaan dan tekad serta keadaan yang begitu dekat dengan pertolongan Allah, namun beliau tetap saja menjadi orang yang senantiasa mengerjakan sholat malam sampai kedua kakinya bengkak. Bahkan beliau juga rajin berpuasa, sampai-sampai dikatakan oleh orang bahwa beliau tidak berbuka. Beliaupun berjihad dijalan Allah. Beliaupun berinteraksi dengan para sahabatnya dan tidak menutup diri dari mereka. Beliau sama sekali tidak pernah meninggalkan amalan sunnah dan wirid-wirid diberbagai kesempatan yang seandainya orang-orang yang perkasa diantara manusia ini berupaya untuk melakukannya niscaya mereka tidak akan sanggup melakukan seperti yang beliau lakukan. Allah ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menunaikan syari’at-syari’at Islam dengan perilaku lahiriyah mereka, sebagaimana Allah juga memerintahkan mereka untuk mewujudkan hakikat-hakikat keimanan dengan batin mereka. Salah satu dari keduanya tidak akan diterima, kecuali apabila disertai dengan ‘teman’ dan pasangannya…” (Al-Fawa’id, hal. 137 cet. Dar Al-’Aqidah 1425 H).

3. Taat kepada Allah dan Rosul-Nya

Allah ta’ala berfirman,

“Barang siapa yang ta’at kepada Allah dan Rosul-Nya, maka Allah akan memasukkanny kedalam surga-surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Itulah kemenangan yang sangat besar”. (QS. An-Nisa’: 13)

Allah ta’ala berfirman tentang mereka,

“Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman itu ketika diseru untuk patuh kepada Allah dan Rosul-Nya agar Rosul itu memutuskan perkara diantara mereka maka jawaban mereka hanyalah, ‘Kami dengar dan kami ta’ati’. Hanya mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. An-Nur: 51)

Allah ta’ala menyatakan,

“Barang siapa ta’at kepada Rosul itu maka sesungguhnya dia telah ta’at kepada Allah”. (QS. An- Nisaa’: 80)

Allah ta’ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rosul, ketika menyeru kalian untuk sesuatu yang akan menghidupkan kalian. Ketahuilah, sesungguhnya Allah yang menghalangi antara seseorang dengan hatinya. Dan sesungguhnya kalian akan dikumpulkan untuk bertemu dengan-Nya”. (QS. Al-Anfal: 24)

Ketika menjelaskan kandungan pelajaran dari ayat ini, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Sesungguhnya kehidupan yang membawa manfaat hanyalah bisa digapai dengan memenuhi seruan Allah dan Rosul-Nya. Barang siapa yang tidak muncul pada dirinya istijabah/sikap memenuhi dan mematuhi seruan tersebut maka tidak ada kehidupan sejati padanya. Meskipun sebenarnya dia masih memiliki kehidupan ala binatang yang tidak ada bedanya antara dia dengan hewan yang paling rendah sekalipun. Oleh sebab itu kehidupan yang hakiki dan baik adalah kehidupan pada diri orang yang memenuhi seruan Allah dan Rosul-Nya secara lahir dan batin. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar hidup, walaupun tubuh mereka telah mati. Adapun selain mereka adalah orang-orang yang telah mati, meskipun badan mereka masih hidup. Oleh karena itulah maka orang yang paling sempurna kehidupannya adalah yang paling sempurna diantara mereka dalam memenuhi seruan da’wah Rosul Shollallahu ‘Alaihi Wasallam. Karena sesungguhnya didalam setiap ajaran yang beliau da’wahkan terkandung unsur kehidupan sejati. Barang siapa yang luput darinya sebagian darinya maka itu artinya dia telah kehilangan sebagian unsur kehidupan, dan didalam dirinya mungkin masih terdapat kehidupan sekadar dengan besarnya istijabahnya terhadap Rosul Shollallahu ‘Alaihi Wasallam”. (Al-Fawa’id, hal. 85-86 cet. Dar Al-’Aqidah)

4. Cinta Dan Benci Karena Allah

Allah ta’ala berfirman,

“Tidak akan kamu jumpai suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkasih sayang kepada orang-orang yang menentang Allah dan Rosul-Nya meskipun mereka itu adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, maupun sanak keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang ditetapkan Allah didalam hati mereka dan Allah kuatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya, Allah akan memasukkan mereka kedalam surga-surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah, ketahuilah sesungguhnya hanya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-Mujadalah: 22)

Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Barang siapa yang mencintai karena Allah. Membenci karena Allah. Memberi karena Allah. Dan tidak memberi juga karena Allah. Maka sungguh dia telah menyempurnakan imannya”. (HR. Abu Dawud, dishohihkan Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud [10/181] As-Syamilah)

Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai aku lebih dicintainya daripada orang tua dan anak-anaknya”. (HR. Bukhari)

Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Ciri keimanan yaitu mencintai kaum Anshor, sedangkan ciri kemunafikan yaitu membenci kaum Anshor”. (HR. Bukhari)

5. Berinfaq Dikala Senang Maupun Susah

Allah ta’ala berfirman,

“Bersegeralah menuju ampunan Robb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menginfaqkan hartanya dikala senang maupun dikala susah, orang-orang yang menahan amarah, yang suka memaafkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau mendzholimi diri mereka sendiri maka merekapun segera mengingat Allah lalu meminta ampunan bagi dosa-dosa mereka, dan siapakah yang mampu mengampuni dosa selain Allah. Dan mereka juga tidak terus menerus melakukan dosanya sementara mereka mengetahuinya”. (QS. Ali Imron: 133-135)

Membelanjakan harta dijalan Allah merupakan ciri orang-orang yang bertaqwa. Allah ta’ala berfirman,

“Alif lam...mim... Ini adalah Kitab yang tidak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang beriman kepada perkara gaib, mendirikan sholat, dan membelanjakan sebagian harta yang Kami berikan kepada mereka”. (QS. Al-Baqoroh: 1-3)

Syaikh As-Sa’di memaparkan, infaq yang dimaksud dalam ayat diatas mencakup berbagai infaq yang hukumnya wajib seperti dzakat, nafkah untuk istri dan kerabat, budak, dan lain sebagainya. Demikian juga ia meliputi infaq yang hukumnya sunnah melalui berbagai jalan kebaikan. Didalam ayat diatas Allah menggunakan kata min yang menunjukkan makna sebagian, demi menegaskan bahwa yang dituntut oleh Allah hanyalah sebagian kecil dari harta mereka, tidak akan menyulitkan dan memberatkan bagi mereka. Bahkan dengan infaq itu mereka sendiri akan bisa memetik manfaat, demikianpula saudara-saudara mereka yang lain. Didalam ayat tersebut Allah juga mengingatkan bahwa harta yang mereka miliki merupakan ridzki yang dikaruniakan oleh Allah, bukan hasil dari kekuatan mereka semata. Oleh sebab itu Allah memerintahkan mereka untuk mensyukurinya dengan cara mengeluarkan sebagian kenikmatan yang diberikan Allah kepada mereka dan untuk berbagi rasa dengan saudara-saudara mereka yang lain (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman [1/30] cet. Jum’iyah Ihya’ At-Turots Al-Islami).

6. Memiliki Hati Yang Selamat

Allah ta’ala berfirman,

“Pada hari itu -hari kiamat- tidak bermanfaat lagi harta dan keturunan, melainkan bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat”. (QS. As-Syu’aro: 88-89)

Abu Utsman An-Naisaburi rahimahullah mengatakan tentang hakikat hati yang selamat, “Yaitu hati yang terbebas dari bid’ah dan tenteram dengan Sunnah”. (disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya [6/48] cet Maktabah Taufiqiyah)

Imam Al-Baghawi rahimahullah mengatakan bahwa hakikat hati yang selamat itu adalah, “Hati yang bersih dari syirik dan keragu-raguan. Adapun dosa, maka tidak ada seorangpun yang bisa terbebas darinya. Ini adalah pendapat mayoritas ahli tafsir”. (Ma’alim At-Tanzil [6/119], lihat juga Tafsir Ibnu Jarir At-Thabari [19/366] As-Syamilah)

Imam Al-Alusi rahimahullah juga menyebutkan bahwa terdapat riwayat dari para ulama salaf seperti Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Ibnu Sirin, dan lain-lain yang menafsirkan bahwa yang dimaksud hati yang selamat adalah, “Hati yang selamat dari penyakit kekafiran dan kemunafikan”. (Ruh Al-Ma’ani [14/260] As-Syamilah)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pengertian paling lengkap tentang makna hati yang selamat itu adalah hati yang terselamatkan dari segala syahwat yang menyelisihi perintah Allah dan larangan-Nya. Hati yang bersih dari segala macam syubhat yang bertentangan dengan berita dari-Nya. Oleh sebab itu, hati semacam ini akan terbebas dari penghambaan kepada selain-Nya. Dan ia akan terbebas dari tekanan untuk berhukum kepada selain Rosul-Nya…” (Ighatsat Al-Lahfan, hal. 15 cet. Dar Thaibah)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Hati yang selamat artinya yang bersih dari : kesyirikan, keragu-raguan, mencintai keburukan, dan terus menerus dalam bid’ah dan dosa-dosa. Konsekuensi bersihnya hati itu dari apa-apa yang disebutkan tadi adalah ia memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengannya. Berupa keikhlasan, ilmu, keyakinan, cinta kebaikan dan memandang indah kebaikan itu didalam hati, dan juga kehendak dan kecintaannyapun mengikuti kecintaan Allah, hawa nafsunya tunduk mengikuti apa yang datang dari Allah”. (Taisir Al-Karim Ar-Rahman hal. 592-593 cet. Mu’assasah Ar-Risalah)

Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan karakter si pemilik hati yang selamat itu, “...apabila dia mencintai maka cintanya karena Allah. Apabila dia membenci maka bencinya karena Allah. Apabila dia memberi maka juga karena Allah. Apabila dia mencegah/tidak memberi maka itupun karena Allah…” (Ighatsat Al-Lahfan, hal. 15 cet. Dar Thaibah)

Demikianlah sekelumit yang bisa kami tuangkan dalam lembaran ini. Semoga bermanfaat bagi yang menulis, membaca maupun yang menyebarkannya. Washollallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin Wa‘ala Alihi Wasallam, Walhamdulillahi Robbil ‘A..lamin.

Yogyakarta, 21 Sya’ban 1430 H
Hamba yang sangat membutuhkan Robbnya

Abu Mushlih Ari Wahyudi

***

Penulis :
Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel :
www.muslim.or.id

Sumber Artikel : http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/ciri-ciri-penduduk-surga.html

Wallahu'alam Bishshowab



OnlineUsers
687
Home