Kesadaran Akan Pengawasan Allah Subhanahu Wa Ta‘ala
Salah satu yang harus ada dalam sikap pengawasan terhadap diri sendiri adalah mengetahui adanya muraqaballah atau pengawasan Allah terhadap diri seorang hamba. Hal ini sangat berkaitan dengan masalah maiyyatullah atau kebersamaan Allah terhadap hambanya beserta asma dan sifat Allah yang berhubungan dengan masalah ini.
Realisasi Asmaul Husna
Kebersamaan Allah Subhanahu Wa Ta‘ala dengan para hamba-Nya antara lain difirmankan oleh-Nya,
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam diatas ‘Arsy Dia mengetahui apa yang masuk kedalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hadid: 4)
Kebersamaan Allah dengan hamba-Nya tidak berarti Allah menyatu atau bercampur atau berada ditengah-tengah makhluknya. Salah paham yang seperti ini bertentangan dengan sifat Allah Yang Maha Tinggi dan bertentangan pula dengan kenyataan sifat Allah bahwa Allah bersemayam diatas ‘Arsy. Lagipula, kata ma’a (bersama) dalam bahasa Arab tidak selalu menunjukan adanya percampuran atau kebersamaan di satu tempat. Kata tersebut ditafsirkan sesuai konteks kalimatnya.
Ayat ini menunjukan bahwa kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya bermakna bahwa Allah mengetahui keadaan mereka, mendengar pembicaraan mereka, melihat perbuatan mereka dan mengatur segala urusan mereka sedangkan Dia bersemayam diatas ‘Arsy. Inilah pemahaman yang benar tentang kebersamaan Allah.
Maka muraqabatullah menuntut direalisasikannya makna asma Allah Ar-Roqib (Yang Maha Mengawasi), Al-Hafidzh (Yang Maha Memelihara), Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui), As-Sami’ (Yang Maha Mendengar) dan Al-Bashir (Yang Maha Melihat) dengan dibarengi perasaan mengagungkan dzat-Nya.
Maka jika kita duduk dihadapan manusia, jadilah penasihat bagi hati dan jiwa kita sendiri. Jangan tergoda dengan berkumpulnya manusia dihadapan kita, sebab mereka itu hanya mengawasi lahiriah kita, sedangkan Allah mengawasi lahir batin kita
Berbekal Pengagungan Dan Pengakuan
Sikap pengagungan terhadap Allah ini disamping karena kehebatan-Nya yang mendorong kita untuk selalu bersama Allah, juga karena pengetahuan yang kita miliki mengenai kekuasaan-Nya dalam mengadakan, mempersiapkan dan memberi hidayah dan menyesatkan. Jika kita mengetahui bahwa kita sendiri tidak kuasa mempersiapkan dan memberi hidayah kepada hati kita, maka kini tahulah kita bahwa betapa besar karunia Allah yang telah Dia anugerahkan didalam hati-hati orang beriman.
Ketika telah mengetahui kekuasaan Allah terhadap hati kita dalam hal menciptakan, mempersiapkan dan memberi hidayah, maka kitapun akan mengarah secara totalitas untuk mengagungkan-Nya disertai ilmu bahwa Dia selalu bersama kita dimanapun kita berada.
Kemudian kita berjalan kepada Allah dalam keta’atan sambil terus memperhatikan diri kita untuk senantiasa berada diantara tiga keadaan : pengagungan yang melalaikan (ta’zhim muzhil) dan pendekatan diri yang membawa (mudanat hamilah) serta kesenangan yang membangkitkan (surur ba’its).
Tiga Keadaan
Ibnul Qayyim menerangkan tiga hal ini dalam Al-Madarij-nya.
Pengagungan yang melalaikan adalah terpenuhinya hati dengan pengagungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta‘ala, sehingga hal itu melalaikannya untuk mengagungkan Selain-Nya, bahkan untuk sekedar menoleh kepada selain-Nya sekalipun. Maka seorang hamba menjadi senantiasa ingat akan keagungan ini ketika hatinya hadir bersama Robb-nya, bahkan hal itu senantiasa menemaninya. Sebab kehadiran hati bersama Allah mewajibkan timbulnya kesenangan dan kecintaan, yang jika keduanya tidak disertai dengan pengagungan maka akan menyebabkan ia keluar dari batas-batas ’ubudiyah (penyembahan) dan keta’atan yang benar.
Mudanat hamilah atau pendekatan diri yang membawa maksudnya adalah pendekatan diri seorang hamba yang membawa untuk berjalan menuju Allah dan melanggengkan perjalanan tersebut serta kehadiran hati bersama-Nya, mengagungkan-Nya serta terlalaikan karena keagungan-Nya itu dari selain Allah.
Sedangkan kesenangan yang membangkitkan adalah kegembiraan dan penghormatan serta kelezatan yang didapat seorang hamba pada saat melakukan pendekatan kepada Allah tersebut. Sebab sama sekali tidak ada sesuatupun kenikmatan duniawi yang menyerupai kesenangan dan kegembiraan hati dengan Allah. Tak ada sesuatu kesamaan yang dapat dijadikan ukuran.
Tidak diragukan lagi bahwa kesenangan ini membangkitkan semangat seorang hamba untuk melanggengkan perjalanannya menuju Allah Subhanahu Wa Ta‘ala serta mengarahkan daya upayanya menuju kepada-Nya dan mendapatkan keridhoan-Nya. Siapa saja yang belum mendapatkan kesenangan ini dan tidak juga sedikit darinya, maka hendaknya ia mengarahkan tuduhannya kepada iman dan amalnya sebagai penyebab, sebab iman itu memiliki rasa manis. Siapa saja yang belum merasakan manisnya iman maka hendaknya ia mengevaluasi diri kembali.
Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta‘ala akan memberikan ganjaran bagi orang yang beramal atas amalnya dengan kenikmatan yang ia rasakan dalam hatinya. Jika ia belum mendapatkannya, maka amalnya itu memiliki andil sebagai penyebab. Pemantauan kita terhadap rasa manis didalam hati akan mewujudkan suatu perlindungan lahiriah dengan menjaga aktivitas lahir kita secara berkesinambungan. Juga akan melahirkan perlindungan batiniah dengan cara menjaga pikiran dan hati serta aktivitas batin.
Begitu banyak manfaaat yang didapat dari menyadari adanya muraqabatullah. Seorang makhluk yang terlepas dari kesadaran ini begitu merugi. Hendaknya kita jadikan kesadaran muraqabatullah senantiasa ada sebagai bagian pengawasan terhadap diri kita sendiri. (abuokasha)
Sumber :
Menggapai Manisnya Iman, Shalah Syadi; Qawaidul Mutsla, Syaikh Al-Utsaimin
Bekasi, Rajab 12/7/1432 H (Juni 14/6/2011)
Wallahu’alam Bishshowab