Polaroid
2026-01-08 22:40

Wahyu Terputus

Wahyu Terputus

Terdapat selang waktu beberapa hari antara turunnya wahyu pertama dengan wahyu berikutnya. Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam menganggap bahwa selang waktu itu sebagai tanda bahwa wahyu telah terputus. Hal ini membuat Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam sedih. Bagaimana peristiwa tersebut terjadi? Kapan hal itu berakhir?

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ibnu Abbas, yang intinya menjelaskan jangka waktu terputusnya wahyu adalah beberapa hari. Inilah pendapat yang kuat dan bahkan yang bisa dipastikan, setelah diadakan penyelidikan dari segala sisi. Pendapat yang banyak menyebar, bahwa masa terputusnya wahyu itu berlangsung selama 3 atau 2,5 tahun merupakan pendapat yang tidak benar.

Pada masa-masa terputusnya wahyu itu, Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam hanya diam dalam keadaan termenung sedih. Rasa kaget dan bingung mengikuti diri beliau. Al-Bukhari meriwayatkan didalam Kitabut Ta’bir yang isinya sebagai berikut : Wahyu terputus selang beberapa waktu, hingga Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dirundung kedukaan seperti halnya diri kita yang sedang berduka.

Beberapa kali beliau pergi ke puncak gunung agar mati saja disana. Tapi setiap kali beliau sudah mencapai puncaknya dan terbesit keinginan untuk terjun dari sana, muncul bayangan Jibril yang berkata, “Wahai Muhammad, engkau benar-benar Rosul Allah”.

Dengan begitu hati dan jiwa beliau menjadi tenang kembali. Setelah itu beliau pulang kembali. Jika kevakuman wahyu itu berselang lagi, maka beliau melakukan hal sama. Namun selagi sudah tiba dipuncak gunung tiba-tiba muncul bayangan Jibril dan mengatakan hal yang sama.

Wahyu Turun Lagi

Ibnu Hajar menuturkan, selama wahyu terputus untuk beberapa hari lamanya, beliau ingin ketakutan dan kedukaannya segera sirna dan kembali seperti sebelumnya. Tatkala bayang-bayang kebingungan mulai surut, tanda-tanda kebenaran mulai membias, dan beliau menyadari secara yakin bahwa kini beliau benar-benar menjadi seorang Nabi Allah Yang Maha Besar dan Maha Tinggi.

Bahwa yang mendatangi beliau adalah duta pembawa wahyu yang menyampaikan pengabaran langit, kegelisahan dan penantiannya terhadap kedatangan wahyu merupakan sebab keteguhan hatinya jika wahyu itu datang lagi, maka Jibril benar-benar datang lagi untuk kedua kalinya.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, bahwa dia pernah mendengar Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam menuturkan masa turunnya wahyu. Beliau bersabda,
“Tatkala aku sedang berjalan, tiba-tiba kudengar sebuah suara yang berasal dari langit. Aku mendongakkan pandangan kearah langit. Ternyata disana ada Malaikat yang mendatangiku di Gua Hira, sedang duduk disebuah kursi, menggantung diantara langit dan bumi. Aku mendekatinya hingga tiba-tiba aku terjerembab ke tanah. Kemudian aku menemui keluargaku dan kukatakan, ‘Selimutilah aku, Selimutilah aku’!”.

Lalu Allah Subhanahu Wa Ta‘ala menurunkan surat Al-Mudatsir: 1-5. Setelah itu wahyu datang berturut-turut.

Cara Wahyu Turun

Wahyu merupakan sumber risalah dan batasan-batasan dakwah. Adapun penurunannya melalui berbagai cara. Ibnu Qayyim rohimahullah menyebutkan cara-cara penurunan wahyu dan membaginya kedalam tingkatan-tingkatan. Tingkatan-tingkatan tersebut yaitu :
1. Mimpi yang hakiki. Ini merupakan permulaan wahyu yang turun kepada Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.
2. Apa yang disusupkan kedalam jiwa dan hati beliau, tanpa dilihatnya, sebagaimana yang dikatakan Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam,
“Sesungguhnya Ruhul-Qudus menghembuskan kedalam diriku, bahwa suatu jiwa sama sekali tidak akan mati hingga disempurnakan ridzkinya, maka bertaqwalah kepada Allah, baguskanlah dalam meminta, dan janganlah kalian menganggap lamban datangnya ridzki, sehingga kalian mencarinya dengan cara mendurhakai Allah, karena apa yang ada disisi Allah tidak akan bisa diperoleh kecuali dengan menta’ati-Nya”.
3. Malaikat muncul dihadapan Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dalam rupa seorang lelaki, lalu bicara dengan beliau hingga beliau bisa menangkap secara langsung apa yang dibicarakannya. Dalam tingkatan ini kadang-kadang para sahabat juga bisa melihatnya.
4. Wahyu datang menyerupai bunyi gemerincing lonceng. Ini merupakan wahyu yang paling berat dan Malaikat tidak terlihat oleh pandangan Nabi, hingga dahi beliau berkerut mengeluarkan keringat sekalipun pada waktu yang sangat dingin, dan hingga hewan tunggangan beliau menderum ke tanah jika beliau sedang menaikinya. Wahyu seperti ini sekali pernah datang tatkala paha beliau berada diatas Zaid bin Tsabit, sehingga Zaid bin Tsabit merasa keberatan dan hampir saja dia tidak kuat menyangganya.
5. Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bisa melihat Malaikat dalam rupa aslinya, lalu menyampaikan wahyu seperti yang dikehendaki Allah kepada beliau. Wahyu seperti ini pernah datang dua kali, sebagaimana yang disebutkan Allah dalam surat An-Najm.
6. Wahyu yang disampaikan Allah kepada beliau, yaitu diatas lapisan-lapisan langit pada malam Mi’raj, berisi kewajiban sholat dan lain-lain.
7. Allah berfirman secara langsung dengan Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, tanpa perantara sebagaimana Allah berfirman dengan Musa bin Imran. Wahyu semacam ini secara pasti berlaku bagi Musa berdasarkan nash Al-Qur‘an dan menurut penuturan beliau dalam hadits tentang Isro’.

Sebagian pakar menambah dengan tingkatan wahyu yang ke delapan, yaitu Allah berfirman secara langsung dihadapan beliau tanpa ada tabir. Ini termasuk masalah yang dipertentangkan orang-orang salaf maupun khalaf. Yang pasti, tingkatan yang terakhir ini merupakan pendapat yang tidak kuat.

Demikianlah, Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam merasa sedih dan hampir putus asa ketika wahyu terputus. Namun, atas pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta‘ala, beliau mampu menghadapinya dan merasa yakin bahwa dirinya benar-benar utusan Allah Subhanahu Wa Ta‘ala.
(naibul abu)

Sumber :
Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar, cet. ke-11, Jakarta 2001.

Wallahu’alam Bishshowab



1
2330
Back