Saudah binti Zam’ah R.A
Sudah merupakan pengetahuan umum bahwa istri-istri Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam rata-rata janda. Salah satu diantaranya adalah Saudah binti Zam’ah. Mengapa Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam menikahi beliau? Dan mengapa pula Saudah tetap bersikeras menjadi istri Nabi walau tidak mendapat kunjungan?
Saudah binti Zam’ah bin Qais bin Abdi Syams bin Abud Al-Qurssyiyah Al-Amiriyyah. Ibunya bernama Asy-Syamus binti Qais bin Zaid bin Amru dari Bani Najjar. Beliau juga seorang sayyidah yang mulia dan terhormat. Sebelumnya menikah dengan As-Sakar bin Amru saudara Suhail bin Amru Al-Amiri. Suatu ketika beliau bersama 8 orang dari Bani Amir hijrah meninggalkan kampung halaman dan hartanya, kemudian menyebrangi dahsyatnya lautan demi agamanya.
Semakin bertambah siksaan dan intimidasi yang mereka alami karena menolak kesesatan dan kesyirikan. Hampir-hampir tiada henti ujian menimpa Saudah, belum usai ujian tinggal di negeri asing beliau harus kehilangan suami beliau sang muhajirin.
Di Lamar Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam
Dalam catatan sejarah, tak seorangpun sahabat yang berani mengajukan kepada Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam tentang pernikahan beliau setelah wafatnya Ummul Mu’minin Khadijah.
Dan disaat kesusahan beliau hampir berkepanjangan, Khaulah binti Hakim memberanikan diri mengusulkan kepada Rosulullah dengan cara yang lembut dan ramah :
Khaulah : Tidakkah Anda ingin menikah wahai Rosulullah?
Rosulullah : (Beliau menjawab dengan suara yang menandakan kesedihan) Dengan siapa saya akan menikah setelah dengan Khadijah?
Khaulah : Jika anda ingin bisa dengan seorang gadis dan bisa pula dengan seorang janda.
Rosulullah : Jika dengan seorang gadis, siapakah gadis tersebut?
Khaulah : Putri dan orang yang paling anda cintai yaitu Aisyah binti Abu Bakar.
Rosulullah : (Beliau diam beberapa saat, lalu bertanya) Jika dengan seorang janda?
Khaulah : Dia adalah Saudah binti Zam’ah, seorang wanita yang telah beriman kepada anda dan mengikuti apa yang anda bawa.
Beliau menginginkan Aisyah, namun terlebih dahulu beliau menikahi Saudah binti Zam’ah. Orang-orang Mekah merasa heran terhadap pernikahan Nabi dengan Saudah binti Zam’ah. Mereka bertanya-tanya seolah-olah tak percaya dengan kejadian tersebut, seorang janda yang telah lanjut usia dan tidak begitu rupawan menggantikan posisi Sayyidah Quraisy. Hal itu tentu saja menarik perhatian bagi para pembesar diantara mereka.
Kenyataan membuktikan bahwa sesungguhnya Saudah atau yang lain tak dapat menggantikan posisi Khadijah, namun Saudah mampu menunaikan kewajiban dalam rumah tangga Nubuwwah, dan melayani putri-putri Nabi.
Demi Meraih Keistimewaan
Setelah 3 tahun rumah tangga tersebut berjalan, masuklah Aisyah dalam rumah tangga Nabi, disusul kemudian istri-istri yang lain seperti Hafsah, Zainab, Ummu Salamah, dan lain-lain. Saudah menyadari bahwa Nabi tidak menikahinya selain karena kasihan melihat kondisinya yang lama menjanda. Dan bagi hal itu telah jelas dan nyata tatkala Nabi ingin menceraikannya dengan cara yang baik untuk memberi kebebasan kepadanya, walaupun Nabi merasa bahwa hal itu akan menyakiti hatinya.
Tatkala Nabi mengutarakan keinginannya itu, Saudah merasa seolah-olah itu adalah mimpi buruk yang menyesakkan dada. Sehingga beliau merengek dengan merendahkan diri seraya memohon,
“Pertahankanlah aku wahai Rosulullah, demi Allah, tiadalah keinginanku, namun aku berharap agar Allah membangkitkanku pada hari Kiamat dalam keadaan menjadi istrimu”.
Begitulah, Saudah lebih mendahulukan keridhoan semuanya yang mulia, sehingga beliau berikan gilirannya kepada Aisyah untuk menjaga hati Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dan beliau sudah tak punya keinginan sebagaimana layaknya wanita lain.
Rosulullah pun menerima usulan istrinya yang berperasaan halus itu, hingga turunlah ayat Allah,
“Maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka)”. (QS. An-Nisa: 128)
Saudah bersyukur kepada Allah karena menjadi ummul mu’minin dan istri Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam di surga. Saudah wafat pada akhir pemerintahan Umar bin Khattab Rodhiyallahu ‘Anhu.
Ummul Mu’minin Aisyah Rodhiyallahu ‘Anha senantiasa mengenang dan mengingat perilaku beliau dan terkesan akan keindahan kesetiaannya. Aisyah Rodhiyallahu ‘Anha berkata,
“Tiada seorang wanita pun yang paling aku sukai agar aku punya sifat seperti dia melebihi Saudah binti Zam’ah yang saat berusia senja dia berkata, ‘Wahai Rosulullah, aku hadiahkan kunjungan anda kepadaku untuk Aisyah’. Hanya saja beliau berwatak keras”.
Demikianlah, Saudah merupakan teladan bagi para wanita yang rela berkorban demi mendapat kemuliaan di akhirat.
(abu shafy)
Sumber :
Mahmud Mahdi Al-Istanbuli, Musthafa Abu An-Nashr Asy Syalabi. Wanita-Wanita teladan Di Masa Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Cetakan III, Pustaka At-Tibyan, Solo, 2003.
Wallahu'alam Bishshowab