Bulan Romadhon sudah di ufuk barat, sebentar lagi muncul. Bulan penuh keutamaan dan anugerah, saat inilah waktu yang tepat untuk memenuhi pundi-pundi bekal kita. Mengapa dan untuk apa kita harus berbekal?
Manusia pada hakikatnya adalah musafir, penempuh perjalanan. Perjalanan panjang nan melelahkan. Bekal adalah sesuatu yang dibutuhkan untuk segala aktivitas kita, apalagi sebagai seorang muslim. Bukankah seorang muslim juga dituntut untuk menjadi da'i, orang yang meniti jalan da'wah. Titian jalan tersebut begitu panjang, bahkan lebih panjang dari usia manusia, serasa tidak bertepi.
Jalan Terjal Berliku
Kehidupan dunia adalah tempat pertarungan antara alhaq (kebenaran) dan albathil (kebatilan). Ini telah berlangsung sejak nenek moyang pertama kita, Nabiyullah Adam ‘Alaihi Salam dan Hawwa, hingga hari akhir nanti. Menempuh jalan ini jelas bukan suatu yang ringan, untuk itulah kita membutuhkan bekal. Aneh rasanya bila menempuh perjalanan nan panjang tanpa bekal. Kalau dalam perjalanan fisik yang bersifat duniawi, seseorang harus mencukupkan bekal yang dapat mengantarkannya pada tujuan, apalagi seorang da'i yang menempuh perjalanan yang bersifat ukhrowi.
Rentang jalan perjuangan da'wah yang ditempuh para da'i tentu memerlukan bekal yang lebih besar. Perbekalan yang menjaminnya sampai pada tujuan akhir yang dikehendaki, para ulama salaf mengatakan bahwa orang yang melakukan safar (perjalanan) fisik tanpa bekal makanan tidaklah bisa disebut tawakal, justru merupakan kebodohan. Apalagi da'i yang melakukan perjalanan ruhiyah
Taqwa Adalah Terbaik
Seorang mu'min mesti menyiapkan bekal untuk menuju akhiratnya, bekal yang dapat membawanya melewati hisab (perhitungan) dan 'iqob (balasan). Bekal yang mampu mendatangkan ampunan dan menjadikannya berhasil melewati asshiroth. Saat itu tiada bermanfaat anak-anak dan harta benda, satu-satunya penentu timbangan adalah kebersihan hati dalam melakukan amal sholih.
Seorang da'i dituntut mempunyai bekal yang cukup untuk menempuh perjalanan panjangnya. Bekal yang menjadikannya memiliki nafas panjang, bekal yang dapat mengecilkan semua kesulitan dan kepenatan. Dirinya juga harus mempunyai himmah (tekad) yang teguh untuk menggapai kebaikan.
Semua Untuk Akhirat
Manusia pasti mengalami kehidupan dunia di bumi ini, kemudian setelah selesai kehidupan dunia menyusul kehidupan akhirat. Rentang hidup manusia tidaklah sama antara yang satu dengan yang lain. Ada yang begitu lahir sudah tidak bisa merasakan hirupan udara, ada juga yang diberi kesempatan hingga tua renta, ada yang masih muda segar bugar tiba-tiba esok hari sudah tiada, sementara ada juga yang sudah pikun terbungkuk-bungkuk tapi nyawa belum pergi juga. Tapi semua muaranya sama yaitu akhirat, bisa jadi ke surga yang penuh bahagia atau mungkin juga neraka yang sarat sengsara.
Kehidupan dan kematian memang misteri, hanya Dia yang punya dan menguasai, karena itu selagi masih sehat alangkah baiknya kalau kita berbekal untuk hari yang dahsyat tersebut. Dunia inilah tempat usaha, mengumpulkan bekal perjalanan abadi. Sementara akhirat adalah tempat pembalasan. Seorang bijak bertutur, "Siang dan malam adalah dua gudang (tempat penyimpanan). Oleh karena itu lihatlah apa yang engkau perbuat untuk mengisi keduanya".
Betapa indah perkataan seorang penyair :
"Dunia adalah jalan menuju surga atau neraka
Sementara malam adalah modal berdagang siangnya adalah pasar"
Heaven oriented (tujuan surga) bukanlah dengan cara menjadi sufi. Yang tepat adalah menjadikan segala aktivitas positif ikhlas karena Allah Subhanahu Wa Ta‘ala. Sebagaimana perkataan Ibnu Taimiyah Rohimahullah, "Ibadah adalah istilah yang mencakup segala sesuatu yang diridhoi dan dicintai Allah, berupa perkataan dan perbuatan baik lahir maupun batin". Insyaallah, niat yang lurus akan menjadikan sesuatu yang mubahpun menjadi ibadah, sebaliknya niat yang rusak karena riya, membuat ibadah menjadi tertolak bahkan mendatangkan dosa. Karena itulah setiap hari setiap saat kita harus mengoreksi niat kita agar senantiasa lurus menuju Allah Subhanahu Wa Ta‘ala
Romadhon Bulan Spesial
Romadhon merupakan bulan yang menjadikan kita ringan untuk beramal karena setan diikat. Bulan untuk menata jiwa dan taqwa sembari membakar hawa nafsu. Bulan inilah saat yang tepat kita melakukan riyadhoh (latihan) agar jiwa kita terbiasa dengan kebaikan, baik amal wajib maupun yang sunnah.
Begitu banyak Allah Subhanahu Wa Ta‘ala melimpahkan semua kemurahan dan anugerah dibulan suci ini. Allah melipatgandakan segala amal kebaikan kita menjadi 10 sampai 700 kali. Allah Subhanahu Wa Ta‘ala juga mengampuni dosa-dosa para Hamba-Nya yang bertaubat. Karena itu mari kita persiapkan diri kita dan keluarga menjelang bulan suci Romadhon, inilah saat yang tepat berlomba-lomba dalam beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta‘ala, insyaallah...
(Abu Alifa)
Taqobalallahu minna wamingkum, Minal a'idin walfaidzin
Mohon maaf lahir batin...
Idang. R